Text
Penyiapan Data Primer untuk Aplikasi Teknologi Underground Coal Gasification (UCG)
Potensi sumber daya batubara Indonesia apabila dihitung sampai
kedalaman 1000 m di atas permukaan laut diperkirakan mencapai 280
milyar ton dan sekitar 119 milyar ton tidak layak ditambang secara
konvensional baik tambang terbuka maupun tambang dalam karena
kualitas dan posisi batubara yang tidak ekonomis bila menggunakan
kedua metode tersebut. Potensi ini dapat dikembangkan dengan cara
gasifikasi bawah tanah atau underground coal gasification (UCG).
Teknologi UCG ini disebut juga sebagai teknologi energi bersih (clean
energy technologies) karena proses ekstraksi gasifikasi dilakukan
secara langsung di dalam tanah (insitu) tanpa melakukan penggalian
batuan penutup dan pembongkaran lapisan batubara terlebih dahulu.
Pada penelitian awal ini, telah dilakukan pengumpulan data primer
dengan melakukan pemboran ini dan non inti (coring dan non coring).
Kegiatan ini bertujuan menyiapkan data-data akurat bawah
permukaan sebagai acuan dalam pengembangan teknologi UCG di
Indonesia dalam upaya mengoptimalkan penggunaan batubara
peringkat rendah (low grade) sebagai konversi energi alternatif dari
batubara ke gas dan mengurangi emisi gas, serta adapun sasaran dari
kegiatan ini adalah dapat diketahuinya kondisi struktur geologi bawah
permukaan, geomekanika dan geohidrologi dalam rangka penyiapan
penerapan teknologi UCG pada lokasi yang telah ditentukan. Dari hasil
penelitian ini telah diketahui bahwa batuan penyusun dari atas ke
bawah adalah selang seling antara batu lempung – batu pasir disisipi
oleh batu lempung terkersikan, dan batu pasir terkesirkan, batubara,
serta batubara terkesirkan, serta lapisan pengapit cukup tebal dan
bersifat impermeable. Hasil uji laboratorium diketahui bahwa kadar
abu sekitar 11,3% jauh lebih rendah dari yang dipersyaratkan untuk
UCG dan nilai kalori berada pada range sub bituminuous sehingga
sesuai dengan persyaratan UCG. Namun demikian berdasarkan drill
cutting dan kajian seismik di utara lokasi penelitian ditemukan sesar
naik dengan arah relatif barat timur yang menembus sampai
permukaan. Selain itu berdasarkan kajian hidrogeologi dan catatan
pemboran ditemukan zona water loss pada kedalaman 6 meter dan 40
meter sehingga hal ini menunjukkan pada kedalaman tersebut ada
retakan atau aquifer yang besar atau lapisan yang permeabilitinya
besar karena hal ini diperkuat juga oleh hasil uji pompa yang
memperoleh nilai permeabelitas k sebesar 2 x 10-4 m/detik yang
berarti di lokasi ini mempunyai aquifer yang potensial. Hasil uji
laboratorium geomekanika terhadap contoh batuan dan tanah
menunjukkan bahwa secara umum kekuatan batuan berkisar antara
0.6 s/d 2 MPa bahwa batuan pengepit batubara cukup lemah, dengan
demikian harus dipilih teknologi yang tidak menggunakan tekanan
yang tinggi saat proses UCG. Dari hasil penelitian tersebut rupanya
perlu ada data yang berasal dari lokasi lain sebagai pembanding untuk
mendapatkan parameter-parameter yang lebih ideal untuk kegiatan
pembangunan pilot plant UCG, selain itu perlu dilakukan simulasi dan
permodelan detail untuk mendapatkan lokasi yang tepat sebagai
lokasi pilot plant UCG.
Tidak tersedia versi lain