Text
Penelitian Emisi Gas Metana dari Tambang Batubara Terbuka
Masalah lingkungan hidup utama yang dialami oleh dunia saat ini
adalah resiko terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim,
beberapa penelitian di dunia mengenai perubahan iklim menunjukkan
bahwa aktivitas manusia selama setengah abad terakhir memberikan
kontribusi terhadap kenaikan temperatur di muka bumi sehingga
perubahan iklim dunia merupakan suatu permasalahan serius yang
sedang kita hadapi dan perubahan iklim merupakan salah satu
dampak dari pemanasan global sehingga peningkatan konsentrasi gas
rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi diyakini menjadi penyebab
timbulnya pemanasan global dan berbagai aktivitas manusia telah
menyebabkan gas rumah kaca (GRK) yang teremisikan ke atmosfer
meningkat yang akibatnya terjadi perubahan komposisi gas rumah
kaca (GRK) di atmosfer yang menyebabkan radiasi matahari yang
terperangkap semakin meningkat sehingga menaikkan suhu rata-rata
permukaan bumi. Indonesia sebagai negara yang telah meratifikasi
Protokol Kyoto meskipun tidak mewajibkan melakukan penurunan
emisi seperti halnya negara-negara yang tercantum dalam Annex I,
namuntetap mempunyai peran dan harus berpatisipasi dalam upaya
pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) antara lain dengan cara
mengembangkan program yang menekan perubahan iklim;
melakukan kebersamaan pemakai (share) teknologi dan bekerjasama
untuk mereduksi emisi gas rumah kaca (GRK) serta mengembangkan
inventari data emisi gas rumah kaca (GRK). Sebagai institusi yang
bergerak di bidang energi maka Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral diharapkan khususnya dari sektor energi serta ikut berupaya
dalam penanggulangannya. Bedasarkan IPPC Guidelines, emisi gas
metana dari tambang batubara secara umum dideskripsikan sebagai
metana yang dilepaskan sebelum, selama dan setelah penambangan
pada tambang batubara terbuka maupun tambang batubara bawah
tanah. Emisi gas rumah kaca dari tambang batubara difokuskan pada
metana karena gas ini merupakan emisi yang terlepas (fugitive) paling
penting dari tambang batubara, dari kegiatan tambang batubara
terbuka dengan pertimbangan metoda penambangan secara terbuka
lebih dominan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan
berdasarkan data overburden dari masing-masing tambang batubara,
faktor emisi pada tambang PT Andalas Bara Sejahtera, tambang PT
Golden Great Borneo dan tambang PT Muara Alam Sejahtera adalah
sebesar 0,3 m3/ton (faktor emisi rendah), sedangkan untuk tambang
air Laya PT Bukit Asam faktor emisi yang digunakan adalah faktor
emisi rata-rata yaitu sebesar 1,2 m2/ton. Kegiatan ini bertujuan untuk
mendapatkan data faktor emisi gas metana dari kegiatan tambang
batubara terbuka di Sumatera Selatan, dan sasaran dari kegiatan ini
adalah untuk menentukan jumlah emisi gas metana yang dihasilkan
dari kegiatan penambangan batubara terbuka sehingga diharapkan
berkontribusi dalam menginventarisasi jumlah gas rumah kaca (GRK)
yang dihasilkan khususnya dari sektor energi sebagai langkah awal
dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) serta
penanggulangannya.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain