Text
Pemanfaatan Residu Bauksit untuk Pembuatan Bata Bangunan Berbasis Mineral Geopolimer
Pemanfaatan Residu Bauksit untuk Pembuatan Bata Bangunan
Berbasis Mineral Geopolimer yang dilakukan pada tahun 2011 di
lingkungan kelompok pengolahan mineral Puslitbang tekMIRA, dan
kegiatan penelitian ini bertujuan untuk membuat bata geopolimer dari
residu alumina sisa proses Bayer sebagai upaya mengurangi jumlah
limbah yang kelak dihasilkan dan menguasai teknologi pembuatan
bata bangunan dengan struktur ikatan antar partikel bersifat
geopolimer, serta diharapkan dapat menghasilkan bata dengan
kualitas yang sesuai untuk perumahan konstruksi ringan dengan kuat
tekan 50-75 kg per cm2. Penelitian pemanfaatan residu bauksit
terutama didasari dengan kebutuhan produknya yang besar namun
investasi pembuatannya relatif kecil maka dengan pertimbangan
tersebut bahwa penelitian pemanfaatan residu bauksit akan dilakukan
untuk pembuatan bata pejal untuk perumahan. Sebagaimana diketahui
pedalaman di Kalimantan adalah salat satu daerah dengan kehidupan
penduduknya yang masih tradisional, saat ini sering terjadi kesulitan
air besih karena hutan sebagai reservoir air sudah gundul dan mereka
selalu membangun rumah panggung dari kayu maka atas dasar ini
penebangan kayu harus diminimalisasi guna mengurangi bencana
longsor, pemanasan global, dan masyarakat harus mulai
diperkenalkan membangun rumahnya menggunakan bata. Oleh
karena itu upaya penelitian pemanfaatan residu bauksit untuk
dijadikan bta pejal di kawasan Kalimantan Barat sangat strategis.
Industri alumina yang akan dikembangkan di Kalimantan Barat saat
ini perlu merencanakan pengelolaan dan pemanfaatan residu bauksit
limbah hasil proses ekstraksi alumina sehingga nantinya tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Beberapa
penelitian menyangkut pemanfaatan residu bauksit telah dilakukan
sebelumnya akan tetapi penelitian pemanfaatan residu bauksit saat ini
di fokuskan untuk pembuatan bata bangunan berbasis material
geopolimer berdasarkan pertimbangan kebutuhan produknya yang
besar dan investasi pembuatannya yang relatif kecil. Pebuatan bata
dilakukan dengan mencampur bahan baku red mud 35%, fly ash 25%,
tailing pencucian bauksit 30 – 40%, dan kapur 0-10%. Campuran
ditambahkan air, soda kaustik 1% dan sodium silikat 0-8% dari total
berat campuran kemudian dicetak dengan alat press hidrolik. Bata
yang dicetak kemudian di curing 80°C selama sehari dan didiamkan
dalam suhu ruang selama 0, 7, 14, 21, dan 28 hari. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa pada penambahan sodium silikat 0-8% nilai kuat
tekan spesimen bata mencapai 53,5 – 238,9 kg per cm2, daya serap air
10,69 – 11,85% dan kerapatan semu antara 1,93 – 2,07 gram per cm3,
sehingga telah memenuhi kualitas bata menurut SNI 15-2094-2000
untuk perumahan kontruksi ringan. Dari segi keamanan dan
keselamatan terhadap lingkungan, kandungan B3 pada sampel residu
bauksit, fly ash dan bata masih di bawah ambang batas yang
ditetapkan dalam PP nomor 18 tahun 1999 io PP nomor 85 tahun
1999, begitu pula dengan konsentrasi radioaktifitas dalam sampel
residu bauksit, tailing, fly ash dan bata juga msih di bawah nilai
exemption level yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir
(BAPETEN).
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain