Text
Pembuatan Alumina Metallurgical Grade dari Larutan Sodium Aluminat Melalui Proses Pemurnian
Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya mineral yang salah
satunya bauksit, bauksit adalah sumber bahan baku dalam pembuatan
aluminium yang melalui proses antara menjadi alumina. Selama ini
bauksit di Indonesia hanya dijual langsung sebagai bahan wantah ke
negara penghasil alumina seperti Jepang sedangkan alumina yang
dihasilkan diimpor kembali ke Indonesia sebagai bahan baku untuk
memperoleh aluminium pada pabrik peleburan yang telah eksis sejak
tahun 34 tahun yang lalu di daerah Sumatera Utara sehingga
ditemukan satu penghubung yang krusial belum ada di Indonesia yaitu
pengusahaan bauksit menjadi alumina. Kebutuhan alumina
metallurgical grade dipenuhi melalui impor sedangkan bahan baku
pembuatan alumina yaitu bauksit banyak terdapat di Kalimantan
Barat, Indonesia dan belum terolaah dengan baik. Berlakunya UU no 4
tahun 2009 menuntut adanya pengolahan dan pemurnian mineral di
dalam negeri sehingga teknologi proses pembuatan alumina
metallurgical grade sangat penting untuk dikuasai. Pada umumnya
pembuatan alumina metallurgical grade terdiri dari 4 (empat) tahapan
yaitu digestion, klarifikasi, prespitasi dan kalsinasi. Digestion bertujuan
untuk mengekstrak Al dari bauksit yang dikenal dengan proses Bayer
yang dilanjutkan dengan klarifiasi atauPenyaringan larutan sodium
aluminat yang dihasilkan dipisahkan dengan bauksit residu yang
dikenal dengan red mud. Kemudian sodium aluminat yang diperoleh di
presipitasi untuk memperoleh alumina hidrat yang terdekomposisi
menjadi alumina melalui proses kalsinasi. Percobaan pertama
dilakukan terhadap bauksit dengan kadar Al2O3 50,9%; SiO2 total
1,17%; Fe2O3 15,21% menggunakan NaOH konsentrasi 129 gr/L yang
larutan sodium aluminatnya dipresipitasi menggunakan asam sulfat
kemudian dikalsinasi dengan variasi suhu 1000; 1100; 1200 C. Proses
tersebut menghasilkan alumina dengan komposisi Al2O3 96,8%, SiO2
0,10%, Fe2O3 0,052%, Na2O 1,05% dan CaO 0,23%. Sedangkan alumina
metallurgical grade yang diinginkan memiliki spesifikasi Al2O3 > 99%,
SiO2 < 0,03%, Fe2O3 < 0,03%, Na2O < 0,65% dan CaO < 0,6%. Sehingga
masih perlu perbaikan kondisi proses dengan melakukan
pengurangan kadar SiO2 dan variasi kondisi proses Bayer. Percobaan
kedua dilakukan untuk mengurangi kadar SiO2 dalam larutan sodium
aluminat dari bauksit dengan spesifikasi sebagai berikut Al2O3 55,4%,
SiO2 reakstif 2,51%, dan Fe2O3 7,11%. Pengurangan kadar SiO2
dilakukan dengan menambah variasi bahan pengikat seperti karbon
aktif granular, CaCl2, Ca (OH)2 dan CaO. Hasilnya pengurangan SiO2
efektif setelah 3 jam penambahan Ca(OH)2. Selain SiO2 masalah
kandungan Na2O dalam produk alumina juga perlu diperhatikan
sehingga dilakukan percobaan ketiga pada proses Bayer dengan
variasi konsentrasi NaOH (129 gr/L dan 102 g/L), variasi jumlah mol
NaOH (sesuai stokiometri; berlebih 10% dan 20%), variasi waktu (2;3
jam) dan perbandingan dengan bahan desilikasi (whitton) atau tidak.
Penambahan bahan desilikasi memberikan hasil ekstraksi terhadap Al
lebih baik dikarenakan mengikat silica reaktif sehingga NaOH dapat
efektif bereaksi dengan Al.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain