Text
Evaluasi Kondisi Gas dan Udara untuk Pencegahan Swabakar Batubara di Tambang Batubara Fajar Bumi Sakti & Ombilin serta Pengembangan Alat Uji dan Pengujian Swabakar Contoh Batubara Sumatera dan Kalimantan
Hasil penelitian langsung dilokasi Bukaan tambang Sawah Rasau LBU
2 ditemukan adanya kenaikan temperatur mencapai 36,5°C dan
peningkatan konsentrasi CO sebesar 20-34 ppm. Selain itu terjadi
pengkabutan sebagai akibat pemanasan di sekitar lokasi LBU 2
tersebut. Hasil analisis Gas Chromatografi menunjukan adanya gas
alcan prophana (6 ppm) dan Prophylen (4 ppm) dengan masing-
masing nilai rasio alcan 0,05 dan 0,04. Lokasi ini dapat berpotensi
sebagai kemungkinan titik swabakar batubara karena munculnya
panas latent uap air yang dapat berfungsi sebagai sumber panas.
Terjadinya temperatur dan konsentrasi CO di sekitar LBU 2 Sawah
Rasau ini disebabkan oleh adanya aktivitas penambangan liar (Peti)
dibagian atas terowongan LBU 2. Lubang bukaan tambang Peti yang
menggali lapisan batubara bagian atas dan pilar batubara
menimbulkan kebocoran udara luar (oksigen) karena ventilasi udara
menggunakan pompa hisap maka udara luar ikut terhisap kedalam
lubang bukaan LBU 2 mengakibatkan absorbsi udara (oksigen)
berlebih pada dinding batubara di lubang tambang sehingga terjadi
reaksi pengoksidasian lapisan batubara yang menyebabkan terjadinya
kenaikkan temperatur disertai peningkatan gas CO serta terbentuknya
kabut uap air dimana panas latent uap air ini dapat menyebabkan
swabakar batubara di lubang bukaan LBU 2 Sawah Rasau. Dari hasil
analisis kimia dan petografi batubara PT. Fajar Bumi Sakti kandungan
zat terbang (39 - 44%) dan hydrogen (5,4 - 5,8%) cupuk tinggi,
komposisi maseral reaktif vitrinit dan liptinit (88 - 93%) dominat
membentuk batubara PT. Fajar Bumi Sakti. Batubara yang
mengandung hydrogen tinggi yang lebih besar dari 5% tergolong
batubara peryhdrous yang kaya akan sumber bahan bakar gas dan cair
sehingga rentan terhadap swabakar. Hasil analisis kimia batubara
Tanjung Enim memberikan indikasi bahwa batubara Muara Tiga Besar
dan Bangko serta Air Laya memiliki kerantanan tinggi terhadap
kebakaran spontan. Kondisi ini diperlihatkan oleh tingginya porositas
batubara (11 – 14%) dan kandungan zat terbang (37 – 41%). Hasil
pengujian sifat swabakar contoh batubara dari PT. BA Tanjung Enim
dan PT. Fajar Bumi Sakti dengan reaktor uji menunjukan bahwa
pemanasan awal batubara dapat mengakibatkan swabakar terjadi
pada suhu relatif rendah yaitu 25 - 55°C, dan batubara mulai terbakar
pada suhu 180 - 260°C.
Tidak tersedia versi lain