Text
Pemantauan (Monitoring) Emisi Pembakaran Batubara pada PLTU dan Penanganannya
Emisi gas buang dari peningkatan konsumsi batubara akibat
meningkatnya kebutuhan energi listrik akan berdampak pada kualitas
udara di sekitar kegiatan pembangkit listrik. Sebagai antisipasi
terhadap peningkatan emisi gas buang maka perlu pemikiran untuk
melakukan pemantauan emisi dari cerobong PLTU berbahan bakar
batubara yang saat ini data pemantauan emisinya masih terbatas.
Pemantauan kualitas udara ini dapat membantu industri dalam
pengendalian pencemaran udara. Maksud dari pelaksanaan penelitian
ini adalah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang terampil
dalam penanganan pemantauan kualitas udara (emisi sumber tidak
bergerak dan ambien). Adapun tujuan kegiatan penelitian ini adalah
mengukur emisi cerobong PLTU dan menentukan prakiraan sebaran
bahan pencemarnya dengan sasaran akhir dari kegiatan penelitian ini
menigkatkan kemampuan Puslitbang tekMIRA dalam memecahkan
permasalahan lingkungan khususnya pencemaran udara akibat emisi
gas buang dari sumber tak bergerak. Hasil pemantauan berkala udara
emisi dari tahun 2004-2007 menunjukkan nilai konsentrasi rata-rata
SO2 antara 9.38-671.75 mg/m3, NO2 6.84-442.91 mg/m3, dan debu
28.56-302 mg/m3. Adapun hasil pengukuran lapangan di tiap lokasi
studi adalah 28.28-548.58 SO2 mg/m3, 84.78-196.70 mg NO2/m3, dan
59.05-82.56 mg debu/m3. Kisaran konsentrasi rata-rata pada
pemantauan berkala dari tahun 2004-2007 untuk udara ambient
adalah 1.52-73.5 μg SO2/m3, 1.68-197.24 μg NO2/m3, dan 45.75-518 μg
debu/m3. Hasil pengamatan lapangan di tiap lokasi studi adalah 0.25-
7.13 μg SO2/m3, 42-16.86 μg NO2/m3, dan 20-247 μg debu/m3. Hasil
kegiatan memberikan gambaran bahwa semua PLTU di lokasi studi
telah menjalankan upaya-upaya yang berkaitan dengan pengendalian
pencemaran udara dengan menerapkan teknologi bersih (elektrostatik
presipitator, flue gas desulfurization, low NOx burner) dan pemantauan
berkala terhadap kualitas udara emisi dan udara ambien. Sedangkan
hasil perhitungan prakiraan penyebaran terlihat adanya pengaruh
ketinggian cerobong. Data pemantauan kualitas udara dari tahun 2004
s.d. 2007 dan hasil pengukuran lapangan di setiap lokasi studi secara
umum masih memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Faktor meteorogi
yang sangat berperan dalam sebaran polutan adalah arah dan
kecepatan angin serta stabilitas udara. Adapun frekuensi hujan perlu
diperhatikan karena dari pencemaran udara dapat menimbulkan
pencemaran air dan lahan. Desain cerobong untuk PLTU-B Suralaya
dan PLTU-B Paiton telah memenuhi persyaratan untuk pengukuran
kualitas udara emisi, namun di PLTU-B Bukit Asam belum tersedia
sarana yang memadai dalam pengukuran emisi cerobong.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain