Text
Pembuatan Zirkonia dari Pasir Zirkon
Potensi pasir zirkon di Kalimantan Tengah, belum termanfaatkan
untuk menghasilkan produk zirkon dengan nilai yang tinggi, dan pada
saat ini pasir zirkon hanya diolah dengan cara sederhana, serta di
Kalimantan masyarakat mengolah pasir zirkon dengan menggunakan
peralatan berupa palong (sluice box) dan diulang untuk menghasilkan
konsentrat pasir zirkon berkadar 50-55% ZrO2 dan diekspor ke Cina
dengan harga murah. Untuk mendapatkan nilai tambah yang berkali
lipat, dan ikut serta sebagai litbang pemerintah dalam mengantisipasi
pemberlakuan UU-Minerba 2008 tentang pelanggaran ekspor bahan
mentah, maka perlu dilakukan peningkatan kadar dan
mengekstraksinya menjadi zirkonia murni berkadar 99% ZrO2+HfO2.
Pembuatan zirkonia dari pasir zirkon Kalimantan Tengah telah
dilakukan dengan metoda disosiasi termal pada skala laboratorium,
dan pasir zirkon Kalimantan Tengah yang dipergunakan mempunyai
kadar yang rendah yaitu 39,04% ZrO2 untuk contoh KAT dan 36,38%
ZrO2 untuk contoh PHR. Kadar ini belum memenuhi persyaratan untuk
dapat dilebur pada pembuatan zirkonia, untuk itu perlu dilakukan
peningkatan kadar contoh sehingga kadar > 65% ZrO2 sesuai dengan
yang dipersyaratkan. Pembuatan Zirkonia dengan metode disosiasi
termal bertujuan untuk mendapatkan zirkonia yang bernilai tambah
tinggi dari konsentrat pasir zirkon dan ekonomis serta ikut aktif dalam
mengantisipasi UU-Minerba 2008 yang baru diberlakukan untuk
pelarangan ekspor bahan mentah. Peningkatan kadar zirkon telah
dilakukan melalui pemisahan dengan metode gaya berat, kemagnetan,
dan konduktifitas listrik, dengan serangkaian peralatan yang terdiri
dari meja goyang, magnetic separator, dan HTS. Dari hasil peningkatan
kadar di peroleh konsentrat pasir zirkonberkadara 66,54% ZrO2 untuk
contoh KAT dan 68,75% ZrO2 untuh contoh PHR. Kadar dari kedua
contoh tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk dapat dilebur
pada pembuatan zirkonia. Pembuatan zirkonia dari konsetrat pasir
zirkon dilakukan dengan metode disosiasi termal, dimana pasir zirkon
dilebur pada suhu 1700°C, kemudian di quenching sehingga pada saat
quenching akan terjadi pengendapan kuarsa di dalam larutan zirkonia
sehingga dengan mudah dapat dipisahkan. Zirkonia yang terbentuk
dikristalisasi dengan cara pembasaan, dan endapan zirkonia yang
terbentuk dilarutkan dengan asam sulfat kemudian dikristalisasi dan
kalsinasi pada suhu 900°C untuk mendapatkan Kristal zirkonia yang
stabil. Metode disosiasi termal pada saat ini berkembang sebagai
bagian dari proses metalurgi untuk menghasilkan material refraktori
yang sulit dibuat dengan metoda konvensional karena suhu yang
dipersyaratkan cukup tinggi. Zirkonia yang diperoleh di uji dengan
XRD untuk melihat mineralnya dan analisis kimia basah untuk kadar
ZrO2. Hasil XRD menunjukkan puncak ZrO2 yang sangat dominan
dengan sedikit dengan perolehan sebesar 71,33%.
Tidak tersedia versi lain